Jalan

Gambar

Ketika hendak menuju ke kantor. Seketika saya terhening melihat jalan raya yang terpampang lebar dan panjang menjulang di depan mata. Meskipun terhalang oleh kaca sebuah busway, tetap jalan itu terlihat begitu jelas.

Saya berfikir apa apa enaknya menjadi sebuah jalan? selalu di lintasi mobil-mobil mewah. Motor-motor yang tak peduli dengan lalu lintas, pejalan kaki yang menghentakkan kakinya ke jalan. Bunga-bunga indah tumbuh di sepanjangan jalan. Saya bisa membayangkan jika “sebuah jalan” memiliki mata, hati, pikiran, dan perasaan. Tak bisa menahan, akhirnya lekuk tipis melengkung sambil malu-malu membhayangkan apa jika itu benar terjadi.

Jika itu benar terjadi! Pastilah jalan akan marah jika ada mobil truk besar melewatinya, kenapa? pasti dia akan merasa kesakitan. Pastilah dia akan mengomel ketika motor dengan gagahnya melintasi dengan mengepulkan asap hitam yang merusak pernapasn. Pastinya dia akan berderai sedih ketika ada darah seorang manusia mengalir di tubuhnya karena kecelakaan. Tentunya dia akan tersenyum indah jika kita dengan sangat anggun melintasi tubuhnya. Dia pasti bangga jika kita menggunakannya dengan sebaik mungkin, menggunkan mobil atau motor yang bagus dan mewah serta menjalankannya dengan sangat hati-hati ditemani seorang yang terkasih pula.

Jalan akan hancur pada waktunya. Selesai sudah dia mengayomi manusia! Setelah dia hancur karna tak tahan menampung beban berat, apa yang manusia lakukan? Mengutuknya! Iya, jelas mengutuknya! Mencaci maki jlan itu. “arrggh! sial jalannya berlubang!” arrggh! sial jalannya ancur, susah bawa kendaraan kalau gini”. Itulah cacian yang keluar dari mulut manusia-manusia sombong.

“Tak ingatkah dia dulu? Lupakah dia akan semua itu?” Keluh sang jalan yang malang. Semakin hari semakin hancur. Semakin rapuh. Semakin senang manusia yang melintasinya mencaci, merobek hatinya yang sudah terluka.

Berakhir. Semua berakhir. Penderitaan itu berakhir ketika, jalan itu mulai di perbaiki. Sorak gembira terdengar ramai. Kristal bening tanda bahagia mengalir deras. Betapa senangnya jalan itu sedah benar dan indah. Jalan yang rusak telah tiada, sekarang sudah terlihat indah jalan baru. Selamat tinggal jalan yang hancur dulu, semoga kau tenang disana. Dan kau jalan yang baru, selamat melihat sosok-sosok manusia lalai yang melintasimu.

Hilangkanlah semua murka dan amarahmu wahai jalanku. Hilangkanlah semua yang membuat air merah mengalir di tubuhmu. Berikan kenyamanan untuk mereka yang menikmatimu..

Lamunan itu terhenti, hayalan gila itu cukup sampai disini. KEluar dari busway, turun dari tangga halte. Melihat tempat tujuan di depan mata. “hai jalan, bantu aku untuk menuju kesebarang sana. Bertugaslah engkau dengan maksimal, kau sungguh mulia.”

DIA

Ini tentang dia.

Tentang dia yang pernah ada di lubuk hati yang suci. Tentang dia yang dulu menjadi alasan tersenyum untuk gadis malang sepertiku.

Dia hadir disaat aku butuh seseorang, dan dia datang dengan membawa harapan yang baru. Senyumnya, indah bola matanya, kekonyolannya, aroma tubuhnya, cerah wajahnya yang membuat aku semakin terperangkap dahsyat dalam medan magnetnya. Semua berjalan lancar. Hari demi hari, bulan demi bulan, kata demi kata telah terukir di hati. Semua begitu indah.

Tiba akhirnya, setelah semua berubah. Secepat kilat! Hanya dengan mengedipkan mata dan membalikkan telapak tangan saja. Tak kusanka, tak ku duga. Tapi semua terjadi begitu saja. Bisa ku sebut dengan jalan Cerita Tuhan.

Kau pergi, pergi jauh sekali, meninggalkan semua kenangan dan asa yang berubah menjadi debu. Berubah menjadi kenangan. Kau berhasil mencabik-cabik perasaan yang sekian lama tertanam dihati. Kau hancurkan semua angan dan cita-cita yang telah aku rangkai, Dengan mudahnyaa.

Hanya bisa menangis, iya itulah yang aku bisa. Kristal-kristal bening semakin manari-mari di atas pipi, seakan-akan dia tau apa yang terjadi. Itu akhir dari sebuah cerita, akhir dari sebuauh hubungan. Mau apa lagi? semua sudah ku pertahankan. Aku mau memaksa? Itu sama sekali tak mungkin.

Kamu? berbahagilah disana, dengan kisah barumu. Dan tentu saja aku kan memulai kisah baruku. Aku tak mau hidup didalam bayangmu! Tentu saja tidak!