13:30 – 14:30

Bel berbunyi tanda sekolah telah bubar. dan semua siswa pergi menuju gerbang untuk pulang. Terik matahari tak memudarkan semangat para siswa untuk pulang menuju rumahnya masing-masing. Ada yang menunggu jemputan orangtuanya dan ada pula yang menggu angkutan umum atau bus kota.
 
Aku yang berlari untuk pulang dan berharap dia ada di dekat halte depan sekolah. Tapi sayangnya, Amalia sahabatku mengajak membeli gorengan samping gerbang sekolah.
Aku pun harus mau, karna dia sahabat terbaikku. Aku bersahabat dengannya sudah lama sekali. Kami sudah seperti saudara sendiri. Dia selalu ada untukku, dan aku juga selalu ada untuknya. Dengan hati yang gelisa dan tak luput mata melirik jam yang melingkar di tangan sebelah kiri. Berharap Amalia dengan sigap memilih gorengan yang akan dia beli.
“Lo kenapa? kok gelisa kayak gitu?” tanyanya aneh sambil membayar gorengan yang dibelinya.
“gak apa-apa kok. Udah belinya? ayok buruan kita pulang!” ajakku sambil menarik tangannya dengan kuat.
“iya-iya sabar!” katanya sambil memuncungkan bibir.
 
Pukul 13:30 siang
 
Aku dan Amalia tergesah-gesah menaiki tangga penyebrangan yang setiap pulang sekolah aku lewati bersama sahabat yang memiliki tubuh gembul. Aku berharap aku bisa melihatnya. Melihat senyum indah yang melekung jelas dibibirnya. Tubuhku mulai gemetar, jantungku berdegub kencang tak karuan. untungnya sahabatku satu ini terus berguyon dengan lelucon-leluconya yang membuat aku sedikit agak tenang. Aku tau Amalia sedang menghiburku karna dia tau kalau aku sedang menahan air mata yang akan jatuh.
 
Pukul 13:45 siang
Aku berdiri di dekat halte depan sekolah. Menunggu dan berharap dia datang. Dengan hati yang gelisa aku tetap menunggunya. Dengan semua rasa yang tertaman didalam dada sejak pertama aku melihatnya. Sangat sesak rasanya menahan kejolak cinta yang selalu aku sembunyikan bersama air mata. 
Aku mengagumi Trian sudah sejak aku duduk dibangku SMP. Beruntung sekarang aku 1 sekolah dengannya lagi di SMA ini. Dia masih tetap sama. Masih seperti Trian yang ramah, sopan, dan berkharisma. Tak ada bosannya jika melihat sosok Trian Gunawan.
 
pukul 14:00 siang
Kaki ku gemetar, dada ku mulai berdegup kencang. Akan kah dia datang?? Pertanyaan yang selalu datang dalam pikiran ku.
Aku teringat sesuatu tentang dirinya, sewaktu jam dan tempat yang sama.
“Lo belum pulang ?” Aku kaget ketika dia menyapa ku dengan senyum manisnya.
“Belom.. Lo sendiri kenapa belum pulang?” jawabku dengan nada yang tersendat.
“Yeee.. Ditanya malah balik nanya. emmpp.. Gue nunggu lo pulang duluan” katanya dengan lentang.
“hahahaha.. Bercanda aja lo” jawabku dengan malu-malu. Degub di dadaku semakin tak karuan. derasnya aliran darahku semakin kencang.
“Gue gak bercanda tuh” dengan gaya cool-nya dia menjawab
“yaudah.. kalo gitu lo pulang duluan sudah itu baru gue pulang”
“gak ahh.” jawabnya singkat.
Aku pun bertanya-tanya ada apa dengan dia? Mungkinkah ini mimpi Tuhan? Aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Pipiku mulai memerah.
“Oiy kita kan searah. Gue mau ke rumah nenek gue” Kataku dengan senyum manis.
“Ohh.. kalo gitu kita barengan aja” jawabnya singkat sambil menarikku masuk kedalam bus kota.
 
Aku pun semakin bahagia mendengar itu. Dia ngajakk aku pulang? Rasanya aku ingin teriak bahagia. Di dalam bus kami tak banyak bicara. Dia hanya menikmati jalan kota dan hembusan angin yang masuk melalui jendela. Sementara aku menikmati waktu dan wajah manisnya dari jarak dekat. Aku sangat bahagia!
…………………………………….
 
Pukul 14:30 siang
Aku pun tersadar dari lamunan itu. Dan kulihat semua sudah sepi dan  dia tak juga datang. Aku yang berharap itu akan terulang lagi, ternyata tidak. Aku yang berharap dia datang menemuiku untuk mengajakku pulang bersamanya lagi, ternyata itu tidak terjadi lagi.
Aku yang semakin yakin bahwa dia tak akan datang. Aku yang semakin rapuh dengan semua keadaan ini. Aku yang semakin hancur dengan semua harapan dan angan-angan indah tentannya.
 
Ku langkah kan kaki ku sambil menutup mata ku. Di dalam hati aku berkata dan berdoa :
Tuhan …
Sekali ini aku minta tolong.
Bisikkan padanya aku sangat mengharapkannya
Mengharapkannya agar dia juga punya rasa yang sama padaku
Mengharpkannya agar dia juga menyayangiku. Hantarkan dia bersamaku Tuhan jika dia memang untukku, jika tidak hapuslah air mata dan sesak didadaku hapuskanlah tentang dia.
Agar penantian ku tidak sia..sia! 
 
Pukul 14:30
Aku mencoba membuka mata ku. Tenyata jam sudah menunjukkan pukul 14:30.
Aku semakin yakin.
Aku melangkahkan kaki ku walau berat dan pergi meninggal kan semua harapan itu. Dalam hati aku berkat bodohnya aku!
Tapi. satu hal yang ku tau. Aku tak perna mengharap kan menanti sahabat hingga aku sia-sia. karna sahabat ku selalu untuk ku. setia pada ku, Tanpa harus aku menunggunya datang. Dia sdh ada di dekat ku.
Aku menarik tangan Amalia menuju bus kota dengan senyum yang ikhlas.
 
“lo kenapa sih? dari tadi itu lo melamun tau gak? gue sampe bingung sendiri” tanyanya dengan wajah cemas.
“gue gak apa-apa kok” jawabku dengan senyum
“lo yakin? lo gak bohong kan sama gue? Gue tau lo pasti lagi nungguin Trian kan? tanyanya dengan mata yang sinis
“makasi ya udah mau nungguin gue ngelamun. Dan makasi juga udah selalu ada buat gue tanpa gue harus menunggu lama.” kataku dengan mata yang berkaca. Hampir saja bulir kristal ini jatuh dihadapannya.
 
Amalia tidak menjawab hanya senyum manis yang dia berikan. Amalia tau apa yang aku rasakan. Satu pelukan aku dapatkan siang ini darinya. Tawa kami memecahkan kepingan rasa yang selama ini mengikat erat dadaku. Aku bebas sekarang. Aku legah. Aku ikhlas. I’m Done. it’s time to MOVE ON!
 
-Selesai-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s